Banyak waktu yang kita
buang bersama. Kita banyak melewati waktu-waktu itu dengan canda, tawa, amarah,
tangis. Seolah dunia memihak pada kita. Ketika hatiku dipermainkan, apakah itu
masih termaafkan?
Ya,
karna aku menyayangimu.
Banyak
hal yang tak kutemukan ada pada dirimu. Semua kesamaan hampir seimbang,
terkecuali agama. Yang tak dapat kita satukan. Kau datang disaat semua terasa
hampa, kau datang seolah mengubah suasana hatiku. Yang kosong menjadi terisi,
yang hitam menjadi berwarna.
Ketika
ku ulang kembali kenangan kita yang masih tersimpan rapi dalam kotak masuk
perpesananku, otakku tiba-tiba bergejolak. “Apakah disana kamu menghubungi yang
lain?”
Aku tau pertanyaan itu
sungguh tak pantas ku lontarkan mengingat kau sedang berada dimana. Tapi, boleh
sesekali aku memikirkan itu, kan? Mengingat siapa dirimu sebelumnya?
Aku
kembali ke kota ini berharap tak akan menumpahkan sedikitpun air mata untukmu.
Tapi apa daya kekuatan hati tak lebih besar daripada pikiranku.
Ya, aku
menangis. Menangisimu yang tiba-tiba hilang dari hidupku. Aku belum siap untuk
ini semua. Aku belum mampu melepaskan.
Ketika aku keluar,
teringat pandanganmu disetiap sudut kota. Banyak kenangan bersamamu yang tak
akan pernah bisa dengan mudah kuhilangkan dari brankas otakku. Ingin rasanya
aku pergi dari kota ini. Tapi kali ini, pikiranku dapat dikalahkan oleh hati.
Sayang,
Walaupun kita jauh,
tapi kita masih bisa bercumbu lewat doa. Ya, doa dan pengharapan agar kamu bisa
berubah dan agar kita bisa bersatu dengan adanya perbedaan besar yang
menghadang didepan sana. Tanganku masih bisa merengkuh tanganmu lewat Tuhan.
Aku masih bisa merangkulmu lewat segelimpangan bola mata diluar sana. Dan kita
masih dapat bersatu lewat hembusan angin. Semoga, harapanku bukanlah
angan-angan kosong semata...

0 komentar:
Posting Komentar