Meratapi kegundahan bulan purnama
yang memancar tanpa ada bintang disampingnya, itulah yang saat ini menjadi
kegiatan malamku sehari-hari ketika kita atau lebih tepatnya disebut kamu telah
memutuskan untuk tak lagi berhubungan. Saat itu kamu memilih pergi dan menjauh
dari “kita” yang telah terbentuk bersama setelah perkenalan yang kemudian
berujung makan bersama itu. Aku mengagumimu dari awal kita berkenalan. Gaya leluconmu,
caramu membawa seseorang sungguh membuatku tertarik. Tapi aku lebih tertarik
pada gayamu membawaku pada kebaikan. Waktu itu, saat adzan dzuhur berkumandang,
kamu dengan sigap menyuruhku untuk segera menunaikan ibadah sholat. Mulai dari
situ aku kagum. Kagum akan sosokmu yang rajin ibadah. Mungkin aku menyukaimu..
Seiring berjalannya waktu, kita
semakin dekat. Tak ada keraguan dariku untuk tetap memilih mempertahankanmu. Aku
hanya bisa mengagumimu dari jauh. Mempertahankan gengsi untuk setidaknya
bertahan beberapa waktu hingga kamu memulai percakapan duluan. Akhirnya dengan
segenap kerinduan yang mendalam, kamu membuka percakapan duluan. Percakapan yang
aneh tapi aku menghargainya. Tak pernah ada kata bosan untuk bercengkrama
denganmu. Karna pasti alurnya jelas, selalu maju tak pernah tertata mundur. Ku nikmati
malam itu dengan banyak senyuman dan tertawa meringis menahan geli. Membalas bbmmu dengan wajah penuh sumringah.
Semalam itu; aku bahagia.
Saat suatu ketika, aku menyuruhmu
untuk melakukan sesuatu dan kamu mau, aku berfikir. Apakah kamu merasakan hal
yang sama denganku? Apakah kamu juga nyaman? Apakah kamu juga suka? Lantas mau
melakukan hal yang menurutku laki-laki lain pun tak akan mau melakukannya. Semua
teman-teman juga berfikir hal yang sama. Apakah benar? Semua saling mencari
tahu jawabannya. Tapi kamu tak pernah mau berkata jujur. Aku menyukaimu dari
awal. Aku selalu mencari tahu semua tentangmu, tapi kamu tak pernah tau kan? Kamu
tak pernah mengetahui bahwa kamu sebenarnya punya secret admirer kan? Aku tak pernah memandangmu dari fisik. Aku hanya
ingin seseorang yang bisa menuntunku menuju ke arah yang lebih baik lagi. Bukan
malah menuntunku ke arah duniawi yang tidak pernah memberikan manfaat untuk
akhirat nantinya. Entah gengsi, takut, atau memang kamu tak menyukaiku makanya
kamu tak pernah berkata jujur.
Dear kamu,
Aku hanya pernah melakukan ini
didalam hidupku selama beberapa kali. Entah mengapa aku mau melakukan ini lagi.
Menjadi pengagum rahasia untuk orang yang bahkan tak pernah menyayangiku atau
menyukaiku. Entah sampai kapan aku bisa bertahan menjadi secret admirermu...
Untuk seseorang yang
kini sedang menempuh pendidikan sarjana hukum.

0 komentar:
Posting Komentar