Dua tahun yang lalu, aku merasakan “hidup” ditengah lautan manusia yang merasa kehidupannya “mati”. Aku menikmati setiap menit yang kurasakan, menghirup segarnya udara didalam kamar. Untuk beberapa orang, kamar merupakan penjara yang mengekang namun untukku, kamar adalah surga yang sangat aku nikmati. Waktu merupakan hal yang nampaknya istimewa saat itu. Datangnya covid disaat yang tepat, ketika sebagian manusia bekerja tak kenal lelah meninggalkan keluarganya dirumah.
Begitu juga denganku. Jika ditanya pada tahun berapa aku
ingin kembali, jawabanku akan tetap sama; Dua Ribu Dua Puluh! Banyak kisah dan
pelajaran hidup yang aku ambil dari sebagian orang yang pernah dekat dalam maya
dan kutemui nyatanya.
Dari mereka aku belajar agar hidup harus terus dijalani pantang menyerah apapun halangan dan rintangan yang ada di hadapan;
Dari mereka aku belajar agar aku memiliki rencana kedua apabila rencana pertamaku gagal, aku memiliki kesempatan lain yang dapat ku usahakan;
Dari mereka
aku belajar arti kerasnya hidup, semangat yang membara walaupun sering
disalahkan mengenai suatu hal;
Dari mereka
aku belajar kesabaran, kala ujian yang tiada henti sakit yang bertubi-tubi
menyerang diri;
Sayangnya waktu tak dapat diputar
kembali, aku tak memiliki laci meja nobita yang dapat menghantarkanku kembali
ke masa itu. Hanya memori yang tersisa saat ini, sebagian besarnya tersimpan
dalam hippocampus dan sebagian
lainnya terpatri didalam hati. Sejauh apapun kakiku melangkah, mereka tak akan
pernah ku lupakan. Laki-laki di tahun dua ribu dua puluh itu sungguh memberikan
makna mendalam bagi hidupku dan memiliki tempat yang istimewa di kehidupanku.

0 komentar:
Posting Komentar