Sabtu, 05 April 2014

Pantaskah Perbedaan Menjadi Alasan?

Diposting oleh Annisa di 23.51
Ketika kamu sudah mantab untuk memulai sebuah lembaran baru, pastikan sudah memikirkan apa yang akan kau tulis dengan spidol berbagai macam warna. Begitu pula hidupku. Sudah ku pastikan akan ku coret dengan berbagai macam warna kehidupan. Banyak warna silih berganti merasuki duniaku. Salah satunya warnamu. Duniaku yang kelabu, berubah pelangi ketika kau datang dengan janji birumu yang akan mengubah hidupmu dengan masa lalu yang kelam itu. Kau tepat datang membawa kecerahan yang akan menapak di masa depanku. Aku terbang, melayang ke sanubari ketika semua janji baik kau ucapkan. Dua kali hatiku dipermainkan, tapi aku masih memaafkan; Aku sangat menyayangimu.

Tapi, apakah sama denganmu? Apakah semua pengorbananku, perjuanganku, sama dengan apa yang kau lakukan? Mereka semua tau jawabannya. Banyak sketsa tergambar diatas putih kehidupan kita. Ketika aku menangis, bahagia, tertawa, semua tergambar jelas. Tapi, kita dihadang satu perbedaan besar; Agama.

Dari awal aku memulai hubungan ini, aku sudah berfikir akan konsekuensinya. Apakah sama denganmu?
Berulang kali aku berkata "aku serius dengan hubungan ini..." Tapi sekali lagi, Apakah sama denganmu?
Mungkin dimatamu, aku sama seperti segelintir mantanmu. Mungkin dimatamu, aku tak berarti apa-apa. Aku, dengan banyak kekuranganku masih mampu menerima semua kekurangan dan kelebihan dirimu. Lantas kenapa tidak denganmu? Kamu berfikir dirimu sempurna sehingga dengan enaknya tiba-tiba kau meninggalkanku begitu saja? Apa kamu pernah ingat, kamu pernah berkata "Aku tak akan meninggalkanmu sama seperti apa yang mantanmu lakukan terhadapmu.." Tapi kini? Kau harus menjilat air liurmu sendiri.

Kamu,
Aku memang belum tau banyak selain kamu adalah orang jahat yang suka mempermainkan wanita. Tapi kini aku sadar, kamu itu seperti apa. Perbedaan besar yang dari awal sudah kita sepakati, menguap begitu saja. Janji-janjimu palsu. Warna pelangi itu berubah jadi hitam. Sehitam hatimu. Yang dulu pernah akan kau perjuangkan hingga titik darah terakhir, kini hanyut mengikuti derasnya arus pikiranmu. Kini giliranku menagih kata-katamu..

Jodoh memang di tangan Tuhan, tapi kita yang harus mempertahankannya..

4 komentar:

Unknown mengatakan...

kereeennnnnnnnnn

Annisa mengatakan...

Aaaa bebiiiii maaciw:*

meita mengatakan...

Hikss :")

Annisa mengatakan...

Aaaaaaaa metaaa kenapaaaaa:''''''''

Posting Komentar

 

Annisa Okta's Copyright © 2011 Design by Ipietoon Blogger Template | web hosting