Kita memang belum terlalu kenal satu sama lain, tapi hatiku seolah merasa kamu yang terbaik dari semuanya. Seiman, baik, belum lagi mereka berkata kamu setia. Siapa yang tak mau denganmu?
Walaupun kita bahkan belum pernah bertemu, tapi aku yakin padamu. Terlihat santunnya kata-katamu yang mewakili perasaanmu pada perbincangan kita di sore itu; Aku menyukaimu. Seiring berjalannya waktu, giatmu menghubungiku makin terlihat jelas ketika kamu meminta nomor handphoneku. Aku tak lantas begitu saja memberikannya karna aku takut, bukan kamu yang sebenarnya yang sedang menghubungiku ini.
Berhari-hari kita tak bersua, entah ada apa tapi aku merasakannya; Kangen. Esoknya ketika aku kembali, kamu langsung menghubungiku. Terlihat dari gaya bicaramu, kamu khawatir aku hilang dan tak kembali. Bahkan kamu sempat bertanya pada sahabatku yang sekaligus pernah menjadi bagian dalam hidupmu; Kemanakah aku pergi?
Seiring sejalan, kita semakin akrab. Bahkan ku relakan memberi nomor handphone pada orang yang belum pernah kutemui sama sekali. Dan baru kali ini aku melakukan itu. Semakin akrab kita, semakin sering berkomunikasi. Hanya sms dan telpon yang dapat menyatukan maya kita. Canda, duka, kesakitan, makanan kita sehari-hari. Aku selalu membagi apa yang ada didalam isi hatiku padamu. Bahkan ku relakan begadang hingga jam satu malam hanya untuk bersua denganmu.
Tapi kini,
Semua berubah. Bukan aku, tapi kamu. Aku sudah berusaha menghilangkan apa yang tidak kamu suka. Aku sudah berusaha menjadi baik. Tapi semua sia-sia dimatamu. Semua apa yang ku perjuangkan untuk bisa mengenalmu lebih ternyata hanya seperti sampah. Menurutmu dulu, fisik tak menjadi masalah. Apa iya? Apa iya untuk ukuran orang berseragam sepertimu, fisik bukan masalah? Tentu tidak. Begitu bodoh aku percaya omonganmu. Kamu dan dia ternyata sama. Apa kabar kamu nantinya ketika aku telah berubah? Dan sekarang, aku hanya butuh waktu untuk mengikhlaskanmu pergi.

0 komentar:
Posting Komentar