Tak pernah terbayangkan
sebelumnya, bertemu orang sepertimu. Tak pernah terbesit satu pikiran pun untuk
merindukanmu. Merindukan yang semestinya menjadi adik tingkatku. Badan tegap,
wajah ndeso tapi ngganteng, medhog, katro, membuat
keunikan tersendiri. Apalagi ke-alay-anmu. Mungkin kamu tidak menyadari, aku
memperhatikanmu dari kejauhan. Pun memperhatikan segala Recent Update mu. Aku mengerti, anak kecil seperti kamu pasti masih
terbawa kelabilan. Apalagi kamu juga baru lulus dari tahap mencari jati diri.
Dear Rama-ku..
Aku, adalah orang yang paling
kolot masalah pekerjaan dan umur. Apalagi tentang masa depan dan jodoh. Nggak
muluk-muluk untuk bisa bersamaku. Asal mengerti agama, seiman, setia, bisa
membimbing menuju surga bersama, dan yang paling penting lebih tua dariku.
Karna pikirku tak pernah berubah dari dulu hingga kini. Bahwa; yang lebih tua
jelas pasti lebih dewasa dariku. Tapi, semua mindsetku berubah ketika aku mengenalmu. Aku yakin, Rama-ku, kau
pasti dewasa. Sedewasa badan tegap, pandangan mata, serta wajahmu. Orang takkan
mengira jika kau harusnya menjadi adik tingkatku. Bukan malah sekelas denganku.
Aku takut untuk menyukaimu. Takut jika perasaanku tak terbalas seperti apa yang
pernah ku alami. Aku takut menunggumu. Takut jika nantinya kau tak pernah
memilihku. Mengagumimu dari jauh sudah menjadi hadiah spesial untuk diriku.
Rama-ku,
Aku sudah bahagia ketika pertama kali mendengar suara khasmu. Apalagi
tahu bahwa kamu asli jogja; kota yang selalu ku incar. Aku selalu ingin menikah
dengan laki-laki yang satu suku denganku. Walaupun tidak menutup kemungkinan
untuk suku yang lain, tapi setidaknya, aku bisa melihat orang tuaku tersenyum
bahwa, anaknya meneruskan keturunan sukunya. Mencari yang sesuai kriteria bagiku, sangat susah.
Apalagi aku tipe pemilih. Tapi rasanya, semua sudah ada pada dirimu. Terutama agama.
Tapi aku sadar, kamu tidak akan mungkin menyukaiku, apalagi menyayangiku. Jikalau
pun kamu sayang, pasti hanya sebatas kawan dan tak lebih. Ya, aku mengerti Rama-ku..
Rama,
Walaupun kau tak setampan Arjuna, tak sekuat Bima, dan tak sebijaksana Dosoroto,
tapi kamu akan tetap jadi Rama-ku dan aku Shinta-mu. Mengagumimu akan menjadi
suatu cerita yang baru dan menarik bagi hidupku. Cukup hanya dengan mengagumi,
tak ingin menyukai apalagi lebih, Rama....
Apa kabarnya ya dirimu nanti
jika suatu saat kita akan di-rolling? Apa
kabarnya suara khas medhogmu, apa
kabar guyonanmu, apa kabar senyum manismu...

0 komentar:
Posting Komentar