Senin, 22 September 2014

Ruang Rindu

Diposting oleh Annisa di 06.49
Aku memutuskan berlari dari matahari yang menyengat siang ini. Bukan, bukan karna takut panas. Akan tetapi mengejar waktu demi bertemu denganmu. Ku tatap jam tangan hitam yang berkalung erat di tangan kananku. Menunjukkan hampir pukul 3 sore, aku masih belum terlambat untuk bertemu denganmu. Ku terjang ringroad dan seolah tak peduli seberapa kencang kendaraan yang berlalu lalang diseputaran jogja demi mendapatkan suguhan tatapan matamu. Beberapa menit kemudian, aku berhenti didepan rumah sementaraku. Bersiap-siap jikalau ternyata sepuluh menit lagi kau akan datang. Sudah hampir satu jam kau tak kunjung datang. Tapi aku tetap sabar menunggu walaupun aku bukan tipikal orang seperti itu. Akhirnya kau datang dan kita lewati seperdelapan hari itu berdua, bersama..

Esoknya, ku pikir, kau tak akan lagi memberi pesan-pesan singkat lewat blackberry messenger.
Ternyata aku salah. Perasaanku seolah terbalas dengan adanya pesan-pesan itu. Meluangkan sedikit waktu yang ku punya untuk membalas pesan-pesan itu sangat cukup berarti. Seminggu ku habiskan waktu berdua dalam maya denganmu. Waktu-waktu singkat itu cukup bagiku. Entah kenapa, aku selalu ingin bertemu denganmu membuang waktu ku yang hampir habis hanya untuk mengobrol hangat denganmu. Tapi yang ku dapat tidaklah semudah yang ku bayangkan. Aku selalu memberi semacam kode-kode untukmu, tapi kau tak pernah paham hal itu. Hingga aku terlelap sendiri dalam hangatnya pesan-pesan singkatmu itu. Aku terlalu lelah. Aku tak ingin merasakan hal yang sama seperti yang dulu ku rasakan. Pernahkah kamu berfikir? Aku dulu pernah seperti ini? Sama persis seperti ini?

Untuk kamu, yang sedang ingin masuk tentara, aku pun pernah berjuang menunggu seseorang yang sedang dalam pendidikan. Aku rela menghabiskan semua waktuku dan mempertaruhkan segalanya untuk menunggu ia selama tujuh bulan. Tapi apa sekarang yang kudapat? Semua sia-sia. Semua pengorbanan, perjuangan, hangus seketika. Aku tak ingin semua itu terjadi lagi padaku. Tapi kamu tetap tidak mengerti itu kan? Aku bukan tipikal orang yang to the point. Sekarang, harusnya kamu mengerti tanpa perlu bertanya lagi kenapa kemarin aku memberi "test" dan kenapa dari kemarin aku marah.

Sekarang, aku hanya bisa menambatkan rindu yang terkungkung semu ini didalam ruang waktu. Menunggu hingga akhirnya kau kembali. Kembali kepada waktu saat kita berjalan bersama dulu. Kembali pada waktu tertawa garing dahulu. Berharap setidaknya kau tau, aku masih sama seperti dulu. Masih ingin seperti dulu, lagi.

Semoga kamu sukses dan menjadi seorang pengabdi negara yang baik. Aku merindukan hari-hari bersamamu, Mas...

0 komentar:

Posting Komentar

 

Annisa Okta's Copyright © 2011 Design by Ipietoon Blogger Template | web hosting