Aku memutuskan
berlari dari matahari yang menyengat siang ini. Bukan, bukan karna takut panas.
Akan tetapi mengejar waktu demi bertemu denganmu. Ku tatap jam tangan hitam
yang berkalung erat di tangan kananku. Menunjukkan hampir pukul 3 sore, aku
masih belum terlambat untuk bertemu denganmu. Ku terjang ringroad dan seolah
tak peduli seberapa kencang kendaraan yang berlalu lalang diseputaran jogja demi
mendapatkan suguhan tatapan matamu. Beberapa menit kemudian, aku berhenti
didepan rumah sementaraku. Bersiap-siap jikalau ternyata sepuluh menit lagi kau
akan datang. Sudah hampir satu jam kau tak kunjung datang. Tapi aku tetap sabar
menunggu walaupun aku bukan tipikal orang seperti itu. Akhirnya kau datang dan
kita lewati seperdelapan hari itu berdua, bersama..
Esoknya, ku pikir,
kau tak akan lagi memberi pesan-pesan singkat lewat blackberry messenger.
Ternyata aku salah. Perasaanku seolah
terbalas dengan adanya pesan-pesan itu. Meluangkan sedikit waktu yang ku punya
untuk membalas pesan-pesan itu sangat cukup berarti. Seminggu ku habiskan waktu
berdua dalam maya denganmu. Waktu-waktu singkat itu cukup bagiku. Entah kenapa,
aku selalu ingin bertemu denganmu membuang waktu ku yang hampir habis hanya
untuk mengobrol hangat denganmu. Tapi yang ku dapat tidaklah semudah yang ku
bayangkan. Aku selalu memberi semacam kode-kode untukmu, tapi kau tak pernah
paham hal itu. Hingga aku terlelap sendiri dalam hangatnya pesan-pesan
singkatmu itu. Aku terlalu lelah. Aku tak ingin merasakan hal yang sama seperti
yang dulu ku rasakan. Pernahkah kamu berfikir? Aku dulu pernah seperti ini?
Sama persis seperti ini?
Untuk kamu, yang
sedang ingin masuk tentara, aku pun pernah berjuang menunggu seseorang yang
sedang dalam pendidikan. Aku rela menghabiskan
semua waktuku dan mempertaruhkan segalanya untuk menunggu ia selama tujuh
bulan. Tapi apa sekarang yang
kudapat? Semua sia-sia. Semua pengorbanan, perjuangan, hangus seketika. Aku tak
ingin semua itu terjadi lagi padaku. Tapi kamu tetap tidak mengerti itu kan?
Aku bukan tipikal orang yang to the point.
Sekarang, harusnya kamu mengerti tanpa perlu bertanya lagi kenapa kemarin aku
memberi "test" dan kenapa dari kemarin aku marah.
Sekarang, aku hanya bisa menambatkan rindu yang terkungkung semu ini
didalam ruang waktu. Menunggu hingga akhirnya kau kembali. Kembali kepada waktu
saat kita berjalan bersama dulu. Kembali pada waktu tertawa garing dahulu.
Berharap setidaknya kau tau, aku masih sama seperti dulu. Masih ingin seperti
dulu, lagi.
Semoga kamu sukses dan
menjadi seorang pengabdi negara yang baik. Aku merindukan hari-hari bersamamu,
Mas...

0 komentar:
Posting Komentar