Entah kenapa, aku selalu jatuh cinta dengan lelaki yang menyebut dirinya "Mas"....
Awal
pertemuan yang begitu singkat dengan goresan kata-kata lewat media penghubung
diantara kita membuat keraguan awalnya didalam benakku. Baru saja aku
kehilangan orang yang membuat duniaku berubah ketika kau hadir. Aku dengan
segenap kesakitanku mencoba untuk bangkit melawan rasa yang membelenggu itu.
Saat itu, aku tak menyadari kehadiranmu untuk menolongku dari rasa sakit yang
mendera. Hingga akhirnya, aku lebih banyak menghabiskan waktu denganmu daripada
memikirkan rasa sakit itu.
Ah!
Seandainya saja kau baca ini..
Ya,
seandainya saat itu kau membaca ini, mungkin pergolakanmu tidaklah terjadi saat
ini. Kamu baik, tapi aku tak pernah menyentuh bayangmu secara nyata. Menatap
matamu, melihat senyummu, tertawa bersamamu. Seandainya saja saat itu aku
bertemu denganmu dan bukan dengannya. Aku pikir, dirinya adalah seseorang yang
dapat menjadi obat dalam pahitnya gejolak hatiku. Tapi mungkin aku salah. Kata
orang, kita seharusnya memilih yang pertama daripada yang kedua. Jika yang
kedua mampu bebaskan belenggu itu, lantas harus pilih yang mana?
Terimakasih,
Kamu..
Kamu
mampu menyembuhkan luka hatiku yang telah tergores. Mampu mengembalikan
senyumku seperti sedia kala. Mampu membuat aku berani menatap kedepan. Tak kan
ada keraguan. Aku bersalah atas semua yang terjadi. Seandainya dari awal aku
tak bermain, maka tak akan kutemui rasa sakit ini. Terimakasih padamu yang
telah sempat mengembalikan tawaku yang hilang.
Mungkin
disuatu masa kita akan bertemu. Dengan waktu yang tak disengaja dan keadaan
yang berbeda..
Terimakasih, Sekali Lagi!

0 komentar:
Posting Komentar