Sudah lama sekali sejak
terakhir kali aku menulis kisah tentang seseorang yang saat ini telah hilang
begitu saja. Lalu kemudian kau muncul membawa secercah angan dan memberiku gairah
untuk kembali melukismu lewat lantunan sajak-sajak sendu beserta cerita pilu
yang akan kutulis hari ini. Perkenalan singkat, seperti biasanya, membawa
cerita pendek yang mungkin akan kita ingat ketika suatu saat kita bertemu lagi
dengan keadaan yang tak diduga sebelumnya. Mungkin, itu bisa jadi cerita dan
kenangan indah untuk kita nikmati dengan masa depan kita nanti; Aku belum siap
saat ini.
Sore itu di Jogja,
untuk pertama kali, kita akan bertemu. Sesuatu yang sangat aku nantikan untuk
melihat ragamu dalam nyata. Rasa senang bercampur deg-degan ketika aku menunggumu. Kamu datang untuk pertama kalinya
dengan membawa wajah yang sumringah yang pernah kulihat sebelumnya; Pada orang
yang berbeda. Kita pergi tanpa tujuan yang pasti. Aku tak ingin mengulang
kesalahan yang sama oleh karena itu, aku berusaha menjadi orang lain yang tak
pernah ada. Ketika tiba ditempat tujuan dadakan dan kamu memulai pembicaraan
dengan wajah khas sumringah itu, aku mulai menyadari bahwa aku bisa bebas
menjadi diriku sendiri. Pada awalnya, tak ada ketertarikan terhadapmu sehingga
aku bebas memperhatikan gerak-gerikmu saat itu. Dan jadilah malam itu suatu
malam penuh perdebatan panjang denganmu.
Setelah sore itu, yang
terjadi selanjutnya adalah
kau mampu merebut separuh hatiku. Dengan trik yang
baik, kau membuat seolah-olah aku mengharapkanmu lebih. Aku terjatuh pada
kesakitanku sendiri berharap semoga aku dapat menghindarinya namun aku malah
terjebak. Semakin dalam dan semakin menusuk jiwaku. Awalnya aku enggan
mengakui, akan tetapi rasa sakit ini semakin parah hingga aku tak kuasa menolak
dan menyerah; Kau sukses membuat hatiku lumpuh. Semakin hari, rasa kagum ini
semakin besar. Semakin aku tak bisa membayangkan bagaimana kehidupan selanjutnya
jika cerita ini sama seperti cerita-cerita yang ku ukir sebelumnya. Mungkin,
kamu hebat dalam melemahkan hatiku. Akan tetapi, aku lebih hebat dalam
menyamarkan rasa ini. Pun aku adalah seorang detektif yang hebat yang dapat
mencari tahu lebih tentangmu. Aku akan berhenti ketika aku telah lelah dan akan
menyerah pada keadaan yang ada. Kamu tahu, aku menyukai pribadimu. Entah aku
merasa kita memiliki kesamaan sifat. Sejujurnya aku malas untuk membenarkan ini
karna sifat yang memiliki kesamaan itu adalah bahwa kita sama-sama bersifat
kekanak-kanakan. Tapi aku tetap bersikukuh dengan perasaanku; Aku menyukaimu.
Tuan,
Entah
sampai kapan aku dapat menyimpan perasaan ini. Entah sampai kapan aku dapat
bertahan dan tak akan menyerah. Jika, memang kau tidak ingin mendapatkanku,
maka sudahi saja permainan ini sampai disini. Namun, apabila yang kau inginkan
adalah mengenaliku lebih jauh lagi maka segerakanlah. Jangan membuatku
meraba-raba keinginanmu. Aku benci keadaan ini, Tuan. Dan… Tuan. Laki-laki
berhak mencari seseorang yang tepat untuknya kelak. Namun, wanita berhak
memilih. Jika, suatu saat nanti ternyata pilihanmu tidak tepat, mungkin aku
hanya dapat tersenyum memandangimu dari kejauhan.
Aku,
Dalam balutan luka.

0 komentar:
Posting Komentar