Sebenarnya, mengingat kisah ini pun aku tak sanggup. Bukan,
bukan karna kau telah membuat hancur hatiku, tapi lebih kepada hatiku yang tak
pernah bisa lepas dari belenggu bayang-bayangmu. Kamu adalah satu-satunya pria
yang berhasil meyakinkanku kembali bahwa tak semua lelaki sama belangnya. Tapi
aku tidak terlalu percaya lebih jauh dengan kata-katamu. Karna, bayangmu semu,
ragamu hampa, tak dapat kusentuh dalam maya. Pun, aku baru mengenalmu tapi
rasanya; aku telah mengenalmu bertahun-tahun. Semua hal yang pernah kita bincangkan
ternyata tak serta-merta pergi dalam otakku. Mereka semua menari-nari kegirangan
dalam lamunanku. Setiap kudengar perbincangan orang, yang kuingat hanyalah
satu; kehangatan obrolan kita.
Perbincangan kita malam itu, tepat pukul setengah dua belas
malam, cukup memberikan penjelasan bagiku. Penjelasan bahwa aku tak perlu
mengharapkanmu kembali seperti dulu-dulu. Cukup bodoh tentunya aku mengharapkan
seseorang yang bahkan jasadnya tak pernah kusentuh, wajahnya tak pernah nampak
di depan kedua kelopak mataku. Tapi aku mengerti, itulah yang dinamakan; cinta.
Arah perbincangan kita semakin jelas. Semakin ku tahu ada apa dibalik sana. Tapi
aku tak menyerah, aku terus mengorek lebih dalam. Hingga akhirnya; aku terluka
sendirian.
Jatuh cinta dalam diam, sungguh tak menyenangkan. Apalagi,
kau pernah tau aku pernah menyimpan rasa untukmu. Apa ini sepenuhnya
kesalahanku? Aku? Dan aku lagi? Aku kesal selalu disalahkan. Tapi, aku sadar. Memang
dari awal aku yang salah. Salah telah menyimpan perasaan besar dan terlalu
berharap kepadamu.
Obrolan yang sudah ku nilai tak ada harganya itu, membawa
kita sampai jam satu malam. Kesalahan di masa lalu, membuatku belajar arti
penting kejujuran. Semua ku ungkapkan padamu. Semua isi hatiku. Hanya berharap,
kamu tau. Tidak lebih. Aku lega di setiap ku menengadahkan tangan, kini semua
itu dijawab. Tuhan baik padaku, Ia menjawab doaku tak lebih dari dua sehari
setelah aku memanjatkannya. Kini aku
mengerti, siapa yang patut dicintai, dan yang tidak. Tanpa keluh kesah, kini
aku akan meninggalkan lembaran ini. Lembaran yang tak pernah kuinginkan
sebelumnya. Aku tak akan mengingatnya lagi. Sebisa mungkin, semampu mungkin.

0 komentar:
Posting Komentar