Brittany anak pindahan dari Jerman itu memang
terlihat aneh. Dia tidak pernah mau berbaur dengan teman-teman sekelasnya. Dia selalu
terlihat menyendiri di pojokan sambil membaca buku. Entah itu buku pelajaran
ataupun novel terjemahan. Baginya, kehidupan disekolah baru ini membuatnya
tersiksa. Jauh dari orang tua, sahabatnya, bahkan Billy sang kakak yang setia
menemaninya pun harus rela Ia tinggalkan.
Brittany tinggal bersama om dan tantenya. Ia semakin
merasa terasing ketika semua teman menjauhinya. Tapi, ada seorang gadis yang
kasihan padanya. Namanya Katie. Katie seorang gadis popular, baik hati, dan
sama pintarnya dengan Brittany, Katie tidak pernah merasa malu berteman dengan
siapa saja, sekalipun dengan Brittany. Ia mencoba mendekati Brittany, berharap Brittany
mau berteman dengannya.
“Hai namaku Katie Pamela, kamu bisa memanggilku
Katie” Sapa Katie lembut. Tetapi Brittany tidak menanggapinya, Ia sibuk dengan
novel yang ada di genggaman tangannya.
“Tidak apa-apa jika kamu tidak mau berteman
denganku. Mungkin lain kali kita bisa ngobrol ya” Katie mulai beranjak pergi
meninggalkan Brittany. Entah ada angin apa, Brittany tiba-tiba berdiri dan menahan
langkah kaki Katie.
Brittany mulai menceritakan semua pengalamannya
di Jerman –sekolahnya dulu- mulai dari awal hingga akhirnya Ia pindah ke
Austria. Katie mulai bisa menjadi bagian dalam diri Brittany. Kini Brittany mendapatkan
sahabat baru, Ia merasa hidupnya kini lebih berwarna.
Hari-hari Brittany kini terasa lebih sempurna
lagi ketika teman-teman sekelasnya satu persatu mulai mendekatinya. Terlebih lagi
sosok Adalson, kakak kelas yang tampan, cerdas, dan juga atlet renang yang
mulai membayangi kehidupannya.
“Hai Brittany, apa kamu ada acara nanti malam?”
Pertanyaan Adelson membuat Brittany salah tingkah
“Hai, sepertinya tidak. Ada apa?”
“Aku ingin mengajakmu jalan-jalan, apakah kamu
mau?”
Anggukan kepala Brittany memberikan isyarat
bahwa Ia mengiyakan ajakan Adalson nanti malam.
---
“Kenapa kamu ingin pergi denganku? Tidakkah aku
begitu buruk?” Tanya Brittany disela mereka sedang berjalan-jalan.
Adalson hanya tertawa kecil, lalu Ia berkata “Kamu
itu manis Brittany. Tidak ada yang seperti kamu. Cerdas, baik hati, dan pintar
di segala bidang”
Senyum simpul terlihat dari bibir merah Brittany.
Baru kali ini ada seseorang yang memujinya. Adalson memang beda dari kebanyakan
pria. Tak pernah terdengar ada gossip mengenai pacar Adalson, tetapi Brittany
pernah mendengar kabar bahwa Adalson menyukai Katie, sahabatnya.
“Bukankah kamu menyukai Katie?” Pertanyaan Brittany
menghentikan langkah kaki Adalson.
“Siapa yang bilang?”
“Semua murid-murid sudah mengetahuinya”
Adalson hanya tersenyum. Ia tak menjawab
pernyataan Brittany, Ia terus melangkahkan kakinya hingga sampai di pelataran parkir.
Sampai saat ini pertanyaan itupun masih terus dibungkam.
Sudah sebulan Adalson dan Brittany dekat. Tapi,
sekali lagi Brittany takut. Takut jika memang benar Adalson menyukai Katie. Ia takut
salah mengambil jalan. Ia tak mau melukai hati Katie yang selama ini telah
menjadi sahabat terbaiknya.
“Aku ingin berbicara denganmu tentang sesuatu
hal, bolehkah?” Tanya Adalson
“Apa itu?”
“Sudah sejak lama aku mengagumimu, apakah kamu…”
“Bukankah kamu menyukai Katie?”
Sambil tertawa Adalson menjawab “Aku dan Katie
adalah sepupu. Mana mungkin kami saling menyukai satu sama lain”
Kelegaan hati Brittany terjawab sudah. Kini Ia
hanya perlu melanjutkan hidupnya dengan Adalson.

0 komentar:
Posting Komentar