Senin, 13 Agustus 2012

Karna Twitter Yang Menyatukan Kita (Part 1)

Diposting oleh Annisa di 07.43
Mataku tak beranjak sedikit pun dari laptop semenjak pukul delapan malam tadi. Bukan tugas sekolah atau sesuatu penting yang sedang kucari, melainkan twitter. Yap! Twitter! Di sekolah aku dijuluki miss twittern secara aku addict banget sama jejaring sosial yang diberi julukan “twitter” itu. Kadang kalau liburan sekolah atau besok hari minggu, aku pasti begadang hanya untuk melampiaskan nafsuku bermain twitter sampai-sampai mamah ngomel karna tagihan modem membengkak. Siapa lagi yang sering main internet kalau bukan aku.
Untung malam ini mamah pergi keluar kota jadi nggak ada yang marahin aku untuk berlama-lama internetan. Dirumah aku hanya ditemani kak Billy, pak Jalal dan bi ningsih kedua pembantuku yang sudah ku anggap seperti keluarga sendiri. Kak Billy termasuk kakak yang baik, karna dia nggak pernah ngerecokin aku kalau lagi main twitter walaupun sebenernya dia butuh banget tuh modem buat nyari tugas-tugas kuliahnya yang numpuk kaya kertas bekas yang siap dibakar.
“Dys, kakak pinjem laptopnya dong. Besok kakak disuruh ngumpul tugas RPL nih” Kata kak Billy memelas.
“Iya deh, kalau bisa jangan lama-lama ya kaak” Sahut ku.
Tepat jarum jam berhenti di angka dua belas malam, tugas-tugas kak Billy pun selesai. Rasanya nunggu tugas-tugas kak Billy selesai itu kaya wisata di neraka, nyebelin banget. Tapi nggak papa deh kak Billy kadang juga baik sama aku. Aku lalu melanjutkan perburuan tweetsku. Ada satu mention yang membuatku aneh. Seorang laki-laki yang minta followback plus nomer handphone. Aku hanya meng-iyakan karna ku pikir mungkin asyik punya temen smsan selain sama shery.
---
Ku lempar ranselku tepat diatas meja. Ku lihat shery kaget akan suara ransel ku yang jatuh. Ekspresi mukanya membuatku geli dan tak tahan ingin tertawa aku pun tertawa lepas tanpa mempedulikan teman-teman yang memperhatikanku.
“Sialan kamu dys! Kaget tau!!” Bentak shery
“Hahahaha, sorry sher.. sorry banget aku lupa kamu kagetan hahaha” Kataku dengan wajah tanpa dosa
“Tumben kamu dateng pagi, kesambet setan ancol ya?!” Ledek shery
“Enak aja! Aku lagi seneng nih sher hehe”
“Seneng kenapa? Eciyeee...”
Aku pun menceritakan tentang seseorang yang ku kenal melalui twitter kemarin pada shery. Ia kaget bukan kepalang, mungkin Ia menyangka aku seorang gadis yang bodoh udah ngasih nomer Handphone ke seseorang yang bahkan aku tidak tahu pasti Ia ada dimana.
“Udahlah sher.. orang Cuma buat temen smsan aja kok” Kataku meyakinkan shery
“Ya tapi takutnya dia ntar culik kamu atau mungkin santet kamu, kita kan nggak tahu..” Ujar shery meyakinkanku.
“Ah kamu kaya mamahku aja sih sukanya nakutin. Tenang aja deh aku kan udah SMA dan nggak mungkin kali aku bisa ketipu gitu aja..” Terangku pada shery.
“Yah terserah kamu aja deh yang penting aku udah kasihtau..”
Sebenarnya, ada betulnya juga omongan Shery dan mamah yang hampir sama itu. Intinya mereka bilang kalau jangan mudah percaya sama orang yang baru dikenal apalagi kenalannya lewat jejaring sosial. Bisa aja kan dia itu adalah penculik? Atau dukun santet? Atau juga seseorang yang benci sama aku tapi pakai nama samaran. Yakan?
Selepas pulang sekolah, aku tak lantas pulang kerumah. Seperti biasa, aku mampir di warung gorengan mang aceng. Aku sibuk bercanda dengan bagas, erika, dan shery. Hilang sudah rasa kekhawatiranku tentang sosok asing di twitter itu. Tiba-tiba suara sms masuk memecah keheningan kami.
“Cieee ada sms masuk dari pacarnya gladys tuh pj mana pj, hahaha” Ejek Bagas
“Apaan sih gas..” Kataku sedikit agak sebel
“Bukan gas, itu kecengannya gladys di twitter. Hahahaha” Lanjut shery
Aku lalu menjauh dari kawanan serigala bermulut lebar itu. Ku lanjutkan membuka handphone yang isinya satu pesan masuk dari nomer tak dikenal.
“Hai gladys, aku yg kmrin di twitter. Nama asliku satrio, oya km msh sekolah ya? Sklh dimana?” Aku kembali teringat akan perkataan shery kemarin. Hatiku deg-degan bukan karna aku suka sama satrio melainkan takut kalau satrio memang benar penculik.
“Oh, hai satrio. Nmaku gladys. Oh iya kbtulan aku msh SMA, aku sklh di SMA Santa Buana jkt. Km sndri?”
“Aku jg msh skolah. Aku sklh di SMA Don Bosco bdg. Wah jkt-bdg dket tuh. Kpn2 boleh nggak ktemu?”
“Boleh J” Balasku mengakhiri percakapan kami
Sambil memandang gelapnya malam, aku kembali teringat dengan kata-kata shery tadi siang. Tapi aku kembali meyakinkan hatiku dan harus berfikir positif. Siapa tahu satrio adalah seorang lelaki tampan yang dikirimkan Tuhan untuk mengakhiri masa jojobaku alias masa jomblo bahagiaku. Semoga satrio orangnya tampan, tinggi, putih, baik, perfect dan semoga, semoga, semogaaa!!!
Mamah yang dari tadi memperhatikanku, hanya tersenyum aneh sambil berjalan ke arahku dengan membawa nampan berisi kue brownies kesukaanku dan juga dua gelas lemon jus. Mamah tahu aja kalau aku lagi haus.
“Cieee anak mamah lagi galau ya? Tumben nggak main twitter. Besok kan libur” Ledek mamah
“Ih apaan galau? Oh jadi mamah pengen gladys main twitter? Oke gladys main twitter dulu ya” Kataku sambil beranjak pergi meninggalkan mamah.
“Etttsss jangan tinggalin mamah dong dys. Ini nih mamah udah capek-capek buatin kamu brownies sama jus lemon. Dimakan dong, kamu kenapa sih? Tumben banget malem-malem ngelamun” Tanya mamah
Aku nggak berani cerita tentang satrio sama mamah. Aku takut mamah malah nyuruh aku jauhi dia. Aku terpaksa berbohong karna takut mamah marah sama aku.
“Ini loh mah, ada temen baru disekolah namanya satrio. Anaknya baik pindahan dari bandung” ujarku sambil mencomot kue brownies hand made by mamah
“Oh gitu. Pasti kamu suka ya sama satrio? Hayo?? Hehehe. Anaknya baik nggak? Atau jangan-jangan satrio itu anaknya tante andita? Kamu masih inget nggak?” Tanya mamah serius
“Satrio siapa mah?? Tante andita? Yang di bogor itu?”
“Iya tante andita yang di bogor itu. Satrio? Masa kamu lupa sama satrio? Temen sepermainanmu waktu kecil itu..” Kata mamah sambil beranjak pergi. Ku biarkan lamunan menyergapku kembali. Satrio? Ya sepertinya aku memang tidak asing mendengar namanya. Lamunan membawaku kembali ke masa sepuluh tahun dulu. Dimana aku masih tinggal di Bogor, sekolah bahkan bermain bersama saudara-saudaraku disana. Hingga tugas kantor papah memisahkan kami.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Annisa Okta's Copyright © 2011 Design by Ipietoon Blogger Template | web hosting