Mataku tak beranjak sedikit pun dari laptop
semenjak pukul delapan malam tadi. Bukan tugas sekolah atau sesuatu penting
yang sedang kucari, melainkan twitter. Yap! Twitter! Di sekolah aku dijuluki
miss twittern secara aku addict banget sama jejaring sosial yang diberi julukan
“twitter” itu. Kadang kalau liburan sekolah atau besok hari minggu, aku pasti
begadang hanya untuk melampiaskan nafsuku bermain twitter sampai-sampai mamah
ngomel karna tagihan modem membengkak. Siapa lagi yang sering main internet
kalau bukan aku.
Untung malam
ini mamah pergi keluar kota jadi nggak ada yang marahin aku untuk berlama-lama
internetan. Dirumah aku hanya ditemani kak Billy, pak Jalal dan bi ningsih
kedua pembantuku yang sudah ku anggap seperti keluarga sendiri. Kak Billy
termasuk kakak yang baik, karna dia nggak pernah ngerecokin aku kalau lagi main
twitter walaupun sebenernya dia butuh banget tuh modem buat nyari tugas-tugas
kuliahnya yang numpuk kaya kertas bekas yang siap dibakar.
“Dys, kakak
pinjem laptopnya dong. Besok kakak disuruh ngumpul tugas RPL nih” Kata kak
Billy memelas.
“Iya deh,
kalau bisa jangan lama-lama ya kaak” Sahut ku.
Tepat jarum
jam berhenti di angka dua belas malam, tugas-tugas kak Billy pun selesai.
Rasanya nunggu tugas-tugas kak Billy selesai itu kaya wisata di neraka,
nyebelin banget. Tapi nggak papa deh kak Billy kadang juga baik sama aku. Aku
lalu melanjutkan perburuan tweetsku. Ada satu mention yang membuatku aneh.
Seorang laki-laki yang minta followback plus nomer handphone. Aku hanya
meng-iyakan karna ku pikir mungkin asyik punya temen smsan selain sama shery.
---
Ku lempar
ranselku tepat diatas meja. Ku lihat shery kaget akan suara ransel ku yang
jatuh. Ekspresi mukanya membuatku geli dan tak tahan ingin tertawa aku pun
tertawa lepas tanpa mempedulikan teman-teman yang memperhatikanku.
“Sialan kamu
dys! Kaget tau!!” Bentak shery
“Hahahaha,
sorry sher.. sorry banget aku lupa kamu kagetan hahaha” Kataku dengan wajah
tanpa dosa
“Tumben kamu
dateng pagi, kesambet setan ancol ya?!” Ledek shery
“Enak aja! Aku
lagi seneng nih sher hehe”
“Seneng
kenapa? Eciyeee...”
Aku pun menceritakan tentang
seseorang yang ku kenal melalui twitter kemarin pada shery. Ia kaget bukan
kepalang, mungkin Ia menyangka aku seorang gadis yang bodoh udah ngasih nomer
Handphone ke seseorang yang bahkan aku tidak tahu pasti Ia ada dimana.
“Ya tapi
takutnya dia ntar culik kamu atau mungkin santet kamu, kita kan nggak tahu..”
Ujar shery meyakinkanku.
“Ah kamu kaya
mamahku aja sih sukanya nakutin. Tenang aja deh aku kan udah SMA dan nggak
mungkin kali aku bisa ketipu gitu aja..” Terangku pada shery.
“Yah terserah
kamu aja deh yang penting aku udah kasihtau..”
Sebenarnya, ada betulnya juga omongan Shery dan
mamah yang hampir sama itu. Intinya mereka bilang kalau jangan mudah percaya
sama orang yang baru dikenal apalagi kenalannya lewat jejaring sosial. Bisa aja
kan dia itu adalah penculik? Atau dukun santet? Atau juga seseorang yang benci
sama aku tapi pakai nama samaran. Yakan?
Selepas pulang
sekolah, aku tak lantas pulang kerumah. Seperti biasa, aku mampir di warung
gorengan mang aceng. Aku sibuk bercanda dengan bagas, erika, dan shery. Hilang
sudah rasa kekhawatiranku tentang sosok asing di twitter itu. Tiba-tiba suara
sms masuk memecah keheningan kami.
“Cieee ada sms
masuk dari pacarnya gladys tuh pj mana pj, hahaha” Ejek Bagas
“Apaan sih
gas..” Kataku sedikit agak sebel
“Bukan gas,
itu kecengannya gladys di twitter. Hahahaha” Lanjut shery
Aku lalu menjauh dari kawanan serigala bermulut lebar itu. Ku
lanjutkan membuka handphone yang isinya satu pesan masuk dari nomer tak
dikenal.
“Hai gladys, aku
yg kmrin di twitter. Nama asliku satrio, oya km msh sekolah ya? Sklh dimana?”
Aku kembali teringat akan perkataan shery kemarin. Hatiku deg-degan bukan karna
aku suka sama satrio melainkan takut kalau satrio memang benar penculik.
“Oh, hai
satrio. Nmaku gladys. Oh iya kbtulan aku msh SMA, aku sklh di SMA Santa Buana
jkt. Km sndri?”
“Aku jg msh
skolah. Aku sklh di SMA Don Bosco bdg. Wah jkt-bdg dket tuh. Kpn2 boleh nggak
ktemu?”
“Boleh J” Balasku mengakhiri
percakapan kami
Sambil memandang gelapnya malam, aku kembali
teringat dengan kata-kata shery tadi siang. Tapi aku kembali meyakinkan hatiku
dan harus berfikir positif. Siapa tahu satrio adalah seorang lelaki tampan yang
dikirimkan Tuhan untuk mengakhiri masa jojobaku alias masa jomblo bahagiaku.
Semoga satrio orangnya tampan, tinggi, putih, baik, perfect dan semoga, semoga,
semogaaa!!!
Mamah yang
dari tadi memperhatikanku, hanya tersenyum aneh sambil berjalan ke arahku
dengan membawa nampan berisi kue brownies kesukaanku dan juga dua gelas lemon
jus. Mamah tahu aja kalau aku lagi haus.
“Cieee anak
mamah lagi galau ya? Tumben nggak main twitter. Besok kan libur” Ledek mamah
“Ih apaan
galau? Oh jadi mamah pengen gladys main twitter? Oke gladys main twitter dulu
ya” Kataku sambil beranjak pergi meninggalkan mamah.
“Etttsss
jangan tinggalin mamah dong dys. Ini nih mamah udah capek-capek buatin kamu
brownies sama jus lemon. Dimakan dong, kamu kenapa sih? Tumben banget
malem-malem ngelamun” Tanya mamah
Aku nggak berani cerita tentang
satrio sama mamah. Aku takut mamah malah nyuruh aku jauhi dia. Aku terpaksa
berbohong karna takut mamah marah sama aku.
“Ini loh mah,
ada temen baru disekolah namanya satrio. Anaknya baik pindahan dari bandung”
ujarku sambil mencomot kue brownies hand made by mamah
“Oh gitu.
Pasti kamu suka ya sama satrio? Hayo?? Hehehe. Anaknya baik nggak? Atau
jangan-jangan satrio itu anaknya tante andita? Kamu masih inget nggak?” Tanya
mamah serius
“Satrio siapa
mah?? Tante andita? Yang di bogor itu?”
“Iya tante
andita yang di bogor itu. Satrio? Masa kamu lupa sama satrio? Temen
sepermainanmu waktu kecil itu..” Kata mamah sambil beranjak pergi. Ku biarkan
lamunan menyergapku kembali. Satrio? Ya sepertinya aku memang tidak asing
mendengar namanya. Lamunan membawaku kembali ke masa sepuluh tahun dulu. Dimana
aku masih tinggal di Bogor, sekolah bahkan bermain bersama saudara-saudaraku
disana. Hingga tugas kantor papah memisahkan kami.

0 komentar:
Posting Komentar