Jumat, 08 Agustus 2014

Bertatap Masalalu

Diposting oleh Annisa di 01.18
Balikpapan, 27 Juli 2014. Sekitar pukul 21.00 wita...

Ya, aku masih mengingat itu semua. Mengingat malam ini, dan malam-malam sebelumnya. Mengingat ucapan ini, dan mengingat ucapan-ucapanmu sebelumnya.
Malam ini, kau ulang lagi ucapan yang tak ingin lagi kudengar dari bibir tebalmu. Dinginnya malam rasanya tak menyurutkan rasa malumu untuk mengucapkan permintaan itu sekali lagi. Aku tak akan percaya lagi pada apa yang kau ucap. Semua palsu. Kamu hanya sedang ada konflik dengan pacar barumu dan ingin membuat pelarian denganku.

Pernah suatu ketika, aku memikirkan ucapanmu. Ucapan yang katanya ingin “balik” seperti dulu. Aku pikir, ucapan itu pantas untuk dipercaya mengingat bahasa kalbumu yang sedemikian rupa. Aku memikirkan ucapanmu malam itu. Ku pikir akan ada kesempatan seperti kesempatan-kesempatan yang sudah seribu kali kuberi padamu. Dan ternyata aku salah.

Tuhan baik padaku. Ia menunjukkan jalan-Nya padaku. Memang, tak seharusnya orang baik berjodoh dengan orang jahat. Aku pikir, kamu memang telah berubah. Aku pikir, kamu layak mendapatkan kesempatan yang sama seperti kemarin-kemarin. Aku pikir, akan ada jalan. Tapi itu semua hanyalah “AKU PIKIR” bukan kita pikir.

Mengulang kejadian itu, malam itu juga, aku tak pernah lagi mempercayai kata-katamu. Kata-kata yang ingin “balik” tapi tidak ada usaha sama sekali. Kamu mendalang tentang pacar barumu. Seolah aku hanya bisa menonton cerita yang sedang kamu dalangi. Lagi-lagi cerita klasik kau umbar. Kau berkata bahwa mamanya terlalu baik padamu sehingga kau tak kuasa memutuskan hubungan dengannya. Dulu, aku pernah mendengar cerita klasik itu sekali. Apa benar cerita itu? Akupun tak lantas begitu saja percaya seperti omongan-omonganmu sebelumnya. Semua cerita-cerita itu, hanya kamu dan Tuhan yang tahu kebenarannya.
Kamu ucapkan sekali lagi kata-kata “balik” itu. Kamu buat perjanjian sendiri. Kamu ingin aku menunggumu putus dari pacarmu, dan melihat perubahanmu dalam jangka waktu tertentu. Apa kurang aku menunggumu putus dari pacarmu yang dulu? Apa kurang aku menunggumu keluar dari pendidikan konyol yang hasilnya juga nothing? Apa kurang semua itu? Kamu sungguh bukan manusia yang pandai bersyukur.

Aku memang tidak memiliki kelebihan paras dibanding mantan-mantanmu yang lain. Aku tak sehebat mereka yang bisa menari, pandai akting, dan jago dalam akademik. Tapi aku tahu aku punya bakat lain yang mungkin mereka tak punya. Kamu manusia biasa yang mencari kesempurnaan dalam diri seorang wanita. Kamu tak menyadari, banyak yang kurang dalam dirimu. Kamu buat saja wanita sempurna dan kamu nikahi dia.
Aku tahu, kamu hanya mencintai satu orang wanita yang pernah hadir dalam hidupmu. Wanita yang tak pernah ingin kau lepas, bahkan ketika kau bersamaku. Terlihat dari benakmu yang tak pernah bisa melepas ingatan lekat akan bayangnya. Ia yang sudah bersamamu dari SMA, ia yang sudah menemani hari-harimu sepanjang satu tahun sembilan bulan, dan ia yang sudah rela memberikan segalanya bagimu tapi kau pergi begitu saja. Masih kurang?

Biarkanlah kami bahagia dengan cara kami sendiri. Jangan pernah ada lagi topik tentang “masalalu”. Berteman? Boleh. Tapi hanya kamu yang anggap itu, tidak denganku. Bagiku, mantan adalah mantan. Tidak ada mantan menjadi teman untuk sebuah alasan yang tak rasional. Jangan pernah mengunggah ingatan masalalu didalam otakku. Jangan pernah mengucap kata “balik” untuk suatu hal yang tak pasti. Jangan pernah hadir lagi jika hanya ingin menggurat luka.


Waiting again and again? Lakukanlah sendiri. Apakah enak rasanya? Kamu tahu sendiri  suatu saat nanti.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Annisa Okta's Copyright © 2011 Design by Ipietoon Blogger Template | web hosting