Rabu, 06 Agustus 2014

Sang Pecandu Rindu

Diposting oleh Annisa di 23.41
Kau pandai melukis indah, kau pandai menggambar tawa, sampai-sampai kau pandai melukis luka. Tak bisakah bayangmu ku tatap walau sekejap?

Suara indah dari seberang sana, masih dapat kurasakan. Hangatnya, riuhnya, renyahnya. Andai dapat ku sentuh, kan ku bungkam mulut comelnya. Bayang-bayang wajahnya masih dapat kulihat dalam nyata. Entah bagaimana bisa aku mengingatnya kembali. Mengingat ia yang pernah membuat luka, yang pernah memecah keheningan malam, yang pernah menenangkan hati yang sedang bergulat dengan perasaan. Candaannya yang garing seolah menggurat kembali sebongkah kisah lama yang tak perlu dibuka.
Untuk pertama kali setelah sekian lama, ia kembali menelponku. Memberikan ucapan selamat perayaan. Entah tiba-tiba tanganku gemetar, jantungku berdetak kencang kala telpon itu ku angkat. Aku tak tahu mengapa perasaanku masih tetap ada padahal, aku sudah memperingatkan diriku sendiri untuk tidak lagi jatuh terlalu dalam padanya. Setelah peristiwa itu, aku yakin aku mampu untuk melupakannya. Tapi, bayangnya tetap saja tak mau pergi dari pikiranku. Merindunya seolah menjadi makananku sehari-hari. Aku mulai candu untuk memikirkannya lagi. Tapi, aku tak mau menyerah untuk begitu saja merindukan seseorang yang bahkan tak pernah memperhatikanku dari kejauhan. Aku tetap berusaha berhenti dan berlari. Namun sekali lagi; usahaku gagal.
Aku mencoba membuka lembaran baru dari bekas buku yang pernah ia tulis. Tapi rasanya, aku tak akan pernah menemukan penulis yang sama sepertinya. Penulis yang kerjaannya meyakinkan orang lain bahwa ia adalah sosok yang beda dari kebanyakan pria. Ia dewasa, baik, sopan, dan setia. Tapi, lama kelamaan, kedok mengenai “Siapa Ia Sebenarnya” mulai terkuak. Ia bukanlah “Ia” yang sebenarnya. Ia hanyalah kebalikan dari sosok yang pernah ia ceritakan. Entah apa aku yang terlalu bodoh sampai-sampai pada saat itu, aku tak ingin berhenti mencintainya. Mencintai laki-laki yang jelas-jelas sudah meninggalkanku dan mencintai orang lain. Aku masih saja menunggunya. Menunggu kepastian waktu agar Tuhan mampu menyatukan kami. Tapi, waktu itu tak kunjung datang. Apa yang kuharap tak kunjung terlihat. Aku mulai takut, takut akan kehilangan perasaan yang teramat mendalam padanya. Dan kini yang ku takutkan mulai muncul. Perasaanku tak se-mendalam dulu padanya. Dan hari ini, rasanya pun aku sudah mati rasa. Tak ada lagi perasaan yang sangat dalam itu padanya...


P.S: Bolehkah kita bertemu suatu saat nanti? Hanya ingin memastikan parasmu nyata dan tak hanya tampak dalam maya..

0 komentar:

Posting Komentar

 

Annisa Okta's Copyright © 2011 Design by Ipietoon Blogger Template | web hosting