Kau pandai melukis
indah, kau pandai menggambar tawa, sampai-sampai kau pandai melukis luka. Tak
bisakah bayangmu ku tatap walau sekejap?
Suara indah dari seberang sana, masih dapat
kurasakan. Hangatnya, riuhnya, renyahnya. Andai dapat ku sentuh, kan ku bungkam
mulut comelnya. Bayang-bayang wajahnya masih dapat kulihat dalam nyata. Entah
bagaimana bisa aku mengingatnya kembali. Mengingat ia yang pernah membuat luka,
yang pernah memecah keheningan malam, yang pernah menenangkan hati yang sedang
bergulat dengan perasaan. Candaannya yang garing seolah menggurat kembali
sebongkah kisah lama yang tak perlu dibuka.
Untuk pertama kali setelah sekian lama, ia kembali
menelponku. Memberikan ucapan selamat perayaan. Entah tiba-tiba tanganku
gemetar, jantungku berdetak kencang kala telpon itu ku angkat. Aku tak tahu
mengapa perasaanku masih tetap ada padahal, aku sudah memperingatkan diriku
sendiri untuk tidak lagi jatuh terlalu dalam padanya. Setelah peristiwa itu,
aku yakin aku mampu untuk melupakannya. Tapi, bayangnya tetap saja tak mau
pergi dari pikiranku. Merindunya seolah menjadi makananku sehari-hari. Aku
mulai candu untuk memikirkannya lagi. Tapi, aku tak mau menyerah untuk begitu
saja merindukan seseorang yang bahkan tak pernah memperhatikanku dari kejauhan.
Aku tetap berusaha berhenti dan berlari. Namun sekali lagi; usahaku gagal.
Aku mencoba membuka lembaran baru dari bekas buku
yang pernah ia tulis. Tapi rasanya, aku tak akan pernah menemukan penulis yang
sama sepertinya. Penulis yang kerjaannya meyakinkan orang lain bahwa ia adalah
sosok yang beda dari kebanyakan pria. Ia dewasa, baik, sopan, dan setia. Tapi,
lama kelamaan, kedok mengenai “Siapa Ia Sebenarnya” mulai terkuak. Ia bukanlah
“Ia” yang sebenarnya. Ia hanyalah kebalikan dari sosok yang pernah ia
ceritakan. Entah apa aku yang terlalu bodoh sampai-sampai pada saat itu, aku
tak ingin berhenti mencintainya. Mencintai laki-laki yang jelas-jelas sudah
meninggalkanku dan mencintai orang lain. Aku masih saja menunggunya. Menunggu
kepastian waktu agar Tuhan mampu menyatukan kami. Tapi, waktu itu tak kunjung
datang. Apa yang kuharap tak kunjung terlihat. Aku mulai takut, takut akan
kehilangan perasaan yang teramat mendalam padanya. Dan kini yang ku takutkan
mulai muncul. Perasaanku tak se-mendalam dulu padanya. Dan hari ini, rasanya
pun aku sudah mati rasa. Tak ada lagi perasaan yang sangat dalam itu padanya...
P.S: Bolehkah kita
bertemu suatu saat nanti? Hanya ingin memastikan parasmu nyata dan tak hanya
tampak dalam maya..

0 komentar:
Posting Komentar