Senja menutup
hari minggu yang menjadi hari terakhir libur puasa ini. Tak terasa esok aku
kembali bertemu “teman-teman”yang “baik” itu. Aku merasa Tuhan tak adil kali
ini. Ia memberiku sebuah “neraka” kali ini dan aku tak tahu akan sampai kapan
dapat bertahan di “neraka” yang menggema panasnya. Ku rapikan buku pelajaran
untuk jadwal esok pagi. Aku merenung sesaat. Mengingat ketika masa-masa kelas 1
SMA kulalui dengan indah bersama sahabat. Canda, tawa, sesaat aku tertawa kecil
mengingat itu. Tapi, tawaku harus terhenti ketika aku mengingat masa ini. Masa
terakhir di SMA dan masa suram “teman-teman baik”
Jam dinding
berbentuk kepala doraemon sudah cukup jelas menampakkan pukul setengah enam
pagi, itu tandanya mataku harus menyudahi tidur panjangnya dan kakiku harus
melangkah menuju kamar mandi yang letaknya sangat jauh dari kamar tidurku.
Perjalanan ke sekolah pagi ini tak terasa mengasikkan bagiku, karna aku telah
membayangkan bagaimana serangai mereka di kelas dan bagaimana hidupku akan berjalan.
Tak terasa langkah kakiku telah membawaku ke kelas baru dan dihadapan teman
baru yang sebenarnya tak patut dianggap teman baru. Namanya Dias. Kami
sebenarnya sudah saling kenal dari kelas satu tapi baru kali ini kami sekelas.
Kami juga sering dibilang anak kembar karna wajah kami yang kata orang mirip.
“Liburan
kemana Dis?” Tanya Dias
“Gua mah
dirumah aja Di. Elu kemana?” Kataku balik bertanya
“Sama aja sama
gue. Nih si endut lala abis dari Jogja nih” Kata Dias sambil menunjuk-nunjuk
Lala yang badannya memang agak bongsor
“Lah kenapa
gue lagi yang dibawa-bawa? Error banget lu” Ejek Lala ke Dias
“Sudah sudah.
Daripada ribut, mending kita ke lapangan yuk udah mau mulai tuh upacaranya”
Ajakku. Mereka berdua kemudian menganggukkan kepala mereka dan mengikutiku dari
belakang.
Awal semester
yang ku bayangkan akan berlalu dengan indah, agaknya bisa jadi kenyataan. Tapi,
seolah bayangan itu sirna ketika aku masuk selepas upacara dan mendapati
Kristan-seorang teman laki-lakiku yang kebetulan pernah sekelas dikelas dua-
duduk tepat dibelakangku. Rasanya muak bercampur kesal karna kutahu agaknya
bacot Kristan besar sekali.
“Eh lu ngapain
duduk didepan gua?” Tanya Kristan dengan nada nyolot
“Suka-suka gua
kali. Lu pikir ni sekolah punya bapak lu jadi gue gak boleh duduk disini”
Jawabku agak kasar
“Yaelah,
santai aja kali. Lebaran gua kerumah lu ye, sediain makanan”
“Gua gak open
house buat cowok macam elu”
---
Udara pagi ini
sangat sejuk, sesejuk hatiku yang mulai dekat dengan Kristan. Awalnya kami tak
dekat walaupun kami pernah sekelas saat kelas 2 SMA. Saat itu kami bagaikan
orang asing ditengah lautan manusia. Hanya beberapa laki-laki saja yang
berteman denganku saat itu. Dan tidak dengannya. Entah ada apa, tapi rasanya
aku malas berteman dengannya apalagi bertegur sapa. Jadilah kami merasa bahwa
kami tak pernah mengenal satu sama lain. Tapi sekarang, agaknya pepatah yang
mengatakan “Tak kenal maka tak sayang” sudah mulai menghampiri hidup kami.
Awalnya hanya bercanda, kemudian mulai dekat dan menyukai satu sama lain.
Siang ini,
kelas kami kebagian foto untuk yearbook.
Dias menelponku dan bilang bahwa ia tak bisa datang ke foto session karna
motornya dipakai ayahnya. Dengan penuh harap, aku mengirim pesan ke Kristan.
Berharap kebaikan budinya untuk sekedar memberi tumpangan pada Dias. Akan
tetapi bukan jawaban “Iya, gue bisa
jemput Dias” yang terjawab dari pesanku, melainkan “Gue jemput lo, Dis. Gue udah deket rumah”
“Cieeeee.....
Cieeeeee.... Adis udah jadian sama Kristan Cieeeee...” Riuh teman-teman sekelas
yang mengejekku karna melihat aku berboncengan dengan Kristan
“Apaan sih,
gue belum jadian kaliiiii. Noh crocodile
yang maksa jemput” Dengan nada setengah tinggi aku membalas keriuhan yang
ditimbulkan oleh mereka
Dua jam berlalu, akhirnya foto
session untuk yearbook pun usai. Seluruh teman-teman pulang, begitu pula aku
yang dibonceng Kristan. Entah mengapa diperjalanan pulang, hatiku terasa
deg-degan.
“Dis,
sebenernya gue udah mulai suka sama lu dari kita pertama deket. Lu mau gak jadi
pacar gua?”
“Gua harus
jawab sekarang? Kalo gua jawab tanggal 14 aja gimana?”
“Gue nggak mau
tau, pokoknya lu harus jawab sekarang Dis. Gue tunggu jawaban lu malem ini
juga”
“Oke, gua
jawab tengah malem ntar ye”
“Jangan juga
jam segitu elaaaahhh”
“Iye, iye. Gua
jawab abis maghrib”
---
Hari itu
menjadi hari paling bahagia dalam hidupku. Aku seolah menjadi pribadi yang
baru, mempunyai teman baru, sahabat baru, yang juga adalah pacarku. Akan
tetapi, diluar sana banyak halangan dan rintangan yang belum siap kuhadapi. Ya,
mereka adalah sahabatku. Sahabat yang senantiasa nasehatnya kuturuti sedari
kelas 1 SMA. Dan mereka pulalah yang menentang hubungan yang baru ku rajut dari
awal, terlihat dari gaya bicara mereka yang sudah tidak ramah lagi denganku,
dan pula mereka sempat memusuhiku.
“Dis, gue tau
lo dimusuhin Mira, Wanda, sama Rika. Gue ngerti diposisi lo. Tapi, yang harus
lo tau mereka sayang sama lo, mereka nggak mau lo diapa-apain sama Kristan. Lo
udah tau kan gimana sifatnya Kristan? Dan lo sendiri yang benci banget sampe
segitunya sama Kristan” Terang Desi, salah seorang sahabatku
“Iya Des, gue
tau. Tapi Kristan udah berubah. Dia nggak kaya yang kalian pikir dulu. Setiap
orang berhak dikasih kesempatan kedua buat berubah kan? Kenapa nggak sama dia
Des..”
“Iyasih Dis,
ya terserah lo sih yang jelas gue udah jelasin ke elo kenapa mereka nggak suka
lo pacaran sama dia. Hati-hati aja ya Dis, gue nggak mau lo rusak”
Hari berganti hari, rasa sayangku
pun semakin besar terhadap Kristan. Tak ada satupun yang dapat mengalahkannya. Termasuk
sahabat-sahabatku. Nasehat mereka, serta tindakan—tindakan mereka yang nyata
pun tak pernah ku hiraukan karna aku berfikir bahwa Kristan memang telah
benar-benar berubah. Akan tetapi aku salah. Kristan menyelingkuhiku dengan
teman lesnya sendiri. Tidak sekali, bahkan tiga kali. Aku melihat sendiri semua
bukti-bukti itu. Apa yang mereka katakan
semuanya benar. Sudah seharusnya aku mendengar apa yang dikatakan sahabatku,
bukan apa yang aku dengar dari hatiku.
---

0 komentar:
Posting Komentar