Rabu, 06 Agustus 2014

Kita Vs Mereka

Diposting oleh Annisa di 23.21
Senja menutup hari minggu yang menjadi hari terakhir libur puasa ini. Tak terasa esok aku kembali bertemu “teman-teman”yang “baik” itu. Aku merasa Tuhan tak adil kali ini. Ia memberiku sebuah “neraka” kali ini dan aku tak tahu akan sampai kapan dapat bertahan di “neraka” yang menggema panasnya. Ku rapikan buku pelajaran untuk jadwal esok pagi. Aku merenung sesaat. Mengingat ketika masa-masa kelas 1 SMA kulalui dengan indah bersama sahabat. Canda, tawa, sesaat aku tertawa kecil mengingat itu. Tapi, tawaku harus terhenti ketika aku mengingat masa ini. Masa terakhir di SMA dan masa suram “teman-teman baik”
Jam dinding berbentuk kepala doraemon sudah cukup jelas menampakkan pukul setengah enam pagi, itu tandanya mataku harus menyudahi tidur panjangnya dan kakiku harus melangkah menuju kamar mandi yang letaknya sangat jauh dari kamar tidurku. Perjalanan ke sekolah pagi ini tak terasa mengasikkan bagiku, karna aku telah membayangkan bagaimana serangai mereka di kelas dan bagaimana hidupku akan berjalan. Tak terasa langkah kakiku telah membawaku ke kelas baru dan dihadapan teman baru yang sebenarnya tak patut dianggap teman baru. Namanya Dias. Kami sebenarnya sudah saling kenal dari kelas satu tapi baru kali ini kami sekelas. Kami juga sering dibilang anak kembar karna wajah kami yang kata orang mirip.
“Liburan kemana Dis?” Tanya Dias
“Gua mah dirumah aja Di. Elu kemana?” Kataku balik bertanya
“Sama aja sama gue. Nih si endut lala abis dari Jogja nih” Kata Dias sambil menunjuk-nunjuk Lala yang badannya memang agak bongsor
“Lah kenapa gue lagi yang dibawa-bawa? Error banget lu” Ejek Lala ke Dias
“Sudah sudah. Daripada ribut, mending kita ke lapangan yuk udah mau mulai tuh upacaranya” Ajakku. Mereka berdua kemudian menganggukkan kepala mereka dan mengikutiku dari belakang.

Awal semester yang ku bayangkan akan berlalu dengan indah, agaknya bisa jadi kenyataan. Tapi, seolah bayangan itu sirna ketika aku masuk selepas upacara dan mendapati Kristan-seorang teman laki-lakiku yang kebetulan pernah sekelas dikelas dua- duduk tepat dibelakangku. Rasanya muak bercampur kesal karna kutahu agaknya bacot Kristan besar sekali.
“Eh lu ngapain duduk didepan gua?” Tanya Kristan dengan nada nyolot
“Suka-suka gua kali. Lu pikir ni sekolah punya bapak lu jadi gue gak boleh duduk disini” Jawabku agak kasar
“Yaelah, santai aja kali. Lebaran gua kerumah lu ye, sediain makanan”
“Gua gak open house buat cowok macam elu”

---

Udara pagi ini sangat sejuk, sesejuk hatiku yang mulai dekat dengan Kristan. Awalnya kami tak dekat walaupun kami pernah sekelas saat kelas 2 SMA. Saat itu kami bagaikan orang asing ditengah lautan manusia. Hanya beberapa laki-laki saja yang berteman denganku saat itu. Dan tidak dengannya. Entah ada apa, tapi rasanya aku malas berteman dengannya apalagi bertegur sapa. Jadilah kami merasa bahwa kami tak pernah mengenal satu sama lain. Tapi sekarang, agaknya pepatah yang mengatakan “Tak kenal maka tak sayang” sudah mulai menghampiri hidup kami. Awalnya hanya bercanda, kemudian mulai dekat dan menyukai satu sama lain.
Siang ini, kelas kami kebagian foto untuk yearbook. Dias menelponku dan bilang bahwa ia tak bisa datang ke foto session karna motornya dipakai ayahnya. Dengan penuh harap, aku mengirim pesan ke Kristan. Berharap kebaikan budinya untuk sekedar memberi tumpangan pada Dias. Akan tetapi bukan jawaban “Iya, gue bisa jemput Dias” yang terjawab dari pesanku, melainkan “Gue jemput lo, Dis. Gue udah deket rumah”
“Cieeeee..... Cieeeeee.... Adis udah jadian sama Kristan Cieeeee...” Riuh teman-teman sekelas yang mengejekku karna melihat aku berboncengan dengan Kristan
“Apaan sih, gue belum jadian kaliiiii. Noh crocodile yang maksa jemput” Dengan nada setengah tinggi aku membalas keriuhan yang ditimbulkan oleh mereka
Dua jam berlalu, akhirnya foto session untuk yearbook pun usai. Seluruh teman-teman pulang, begitu pula aku yang dibonceng Kristan. Entah mengapa diperjalanan pulang, hatiku terasa deg-degan.
“Dis, sebenernya gue udah mulai suka sama lu dari kita pertama deket. Lu mau gak jadi pacar gua?”
“Gua harus jawab sekarang? Kalo gua jawab tanggal 14 aja gimana?”
“Gue nggak mau tau, pokoknya lu harus jawab sekarang Dis. Gue tunggu jawaban lu malem ini juga”
“Oke, gua jawab tengah malem ntar ye”
“Jangan juga jam segitu elaaaahhh”
“Iye, iye. Gua jawab abis maghrib”

---

Hari itu menjadi hari paling bahagia dalam hidupku. Aku seolah menjadi pribadi yang baru, mempunyai teman baru, sahabat baru, yang juga adalah pacarku. Akan tetapi, diluar sana banyak halangan dan rintangan yang belum siap kuhadapi. Ya, mereka adalah sahabatku. Sahabat yang senantiasa nasehatnya kuturuti sedari kelas 1 SMA. Dan mereka pulalah yang menentang hubungan yang baru ku rajut dari awal, terlihat dari gaya bicara mereka yang sudah tidak ramah lagi denganku, dan pula mereka sempat memusuhiku.
“Dis, gue tau lo dimusuhin Mira, Wanda, sama Rika. Gue ngerti diposisi lo. Tapi, yang harus lo tau mereka sayang sama lo, mereka nggak mau lo diapa-apain sama Kristan. Lo udah tau kan gimana sifatnya Kristan? Dan lo sendiri yang benci banget sampe segitunya sama Kristan” Terang Desi, salah seorang sahabatku
“Iya Des, gue tau. Tapi Kristan udah berubah. Dia nggak kaya yang kalian pikir dulu. Setiap orang berhak dikasih kesempatan kedua buat berubah kan? Kenapa nggak sama dia Des..”
“Iyasih Dis, ya terserah lo sih yang jelas gue udah jelasin ke elo kenapa mereka nggak suka lo pacaran sama dia. Hati-hati aja ya Dis, gue nggak mau lo rusak”

Hari berganti hari, rasa sayangku pun semakin besar terhadap Kristan. Tak ada satupun yang dapat mengalahkannya. Termasuk sahabat-sahabatku. Nasehat mereka, serta tindakan—tindakan mereka yang nyata pun tak pernah ku hiraukan karna aku berfikir bahwa Kristan memang telah benar-benar berubah. Akan tetapi aku salah. Kristan menyelingkuhiku dengan teman lesnya sendiri. Tidak sekali, bahkan tiga kali. Aku melihat sendiri semua bukti-bukti itu.  Apa yang mereka katakan semuanya benar. Sudah seharusnya aku mendengar apa yang dikatakan sahabatku, bukan apa yang aku dengar dari hatiku.


---

0 komentar:

Posting Komentar

 

Annisa Okta's Copyright © 2011 Design by Ipietoon Blogger Template | web hosting